Alat pertanian yang biasa digunakan ibu-ibu petani untuk memanen padi secara manual satu per satu atau tiap-tiap satu batang padi. Ani-ani merupakan alat yang penting bagi petani terutama petani padi pada zaman dahulu. Setelah diani-ani, padi kemudian diuntingi atau diikat dengan tali dan dibawa pulang dengan dipikul atau digendong. Sesampai di rumah, untingan-untingan padi dijemur di bawah sinar matahari, atau disimpan di tempat yang tinggi di dalam rumah. Pada saat petani menginginkan untuk menanak nasi, untingan-untingan tersebut diiles atau digilas dengan kaki hingga gabah terpisah dari tangkainya, kemudian ditutu atau ditumbuk menggunakan lesung dan alu, hingga tiap butiran gabah lepas kulitnya menjadi beras. Pajak dan upeti pada zaman dahulu menggunakan untingan padi ini.
Namun, kini alat pertanian yang unik ini sudah mulai terpinggirkan. Hal ini disebabkan petani cenderung lebih memilih menggunakan arit babatan untuk memanen padi mereka karena lebih praktis. Arit dapat digunakan untuk memanen padi dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang cepat. Siklus perawatan padi pun berubah seiring dengan perubahan cara panen ini. Kini padi yang telah dibabat, kemudian disosok menggunakan mesin perontok padi. Pulang dari sawah, petani langsung membawa gabah, sementara batang padi sudah terpisah dan sebagaian dijual kepada para peternak sebagai pakan.
Sumber: Ensiklopedi Gunungkidul

Tidak ada komentar:
Posting Komentar