B

  • A (26)
  • B (31)

Selasa, 12 April 2016

ANDE-ANDE LUMUT

Cerita klasik masyarakat Jawa yang hingga kini masih banyak digemari di Gunungkidul sebagai drama rakyat. Ande-Ande lumut di Gunungkidul biasanya dipentaskan dalam pertunjukkan kethoprak. Dikisahkan, Mbok Randa Dadapan memiliki seorang anak laki-laki bernama Panji Asmara Bangun. Karena sudah dewasa ia diminta kawin oleh ibunya. Sudah banyak kembang desa yang melamar. Di antaranya bernama Kleting Abang, Kleting Ijo, Kleting Biru dan banyak lagi gadis lainnya. 

Akan tetapi,  Panji Asmara Bangun menolaknya. Panji Asmara curiga karena untuk menuju tempat tinggal Mbok Randa Dadapan tidaklah mudah. Para gadis tersebut tentu harus menyeberangi sungai. Padahal, sungai dijaga oleh Yuyu Kangkang yang selalu minta upah berupa ciuman bila meminta jasanya untuk diseberangkan. Selain itu walaupun gadis-gadis tersebut berparas ayu, hati mereka jahat.

Suatu ketika datanglah Kleting Kuning yang sangat berbeda dari saudara-saudaranya. Tubuhnya penuh luka karena sering disiksa oleh ibu tiri dan saudara-saudaranya dengan penampilan amat sederhana. Gadis ini pun hendak mengikuti saudara-saudaranya. Kendalanya ia harus menyeberangi sungai. Yuyu Kangkang sama sekali tidak berminat menyeberangkannya. Dengan penuh keyakinan ia berdoa kepada Tuhan. Sungai itu pun menjadi kering dipukul sada lanang atau sejenis tongkat kecil. Atas kebesaran Tuhan, Kleting Kuning pun berhasil menyeberangi sungai. Singkat cerita sampailah di rumah Panji Asmara Bangun. Namun, Mbok Randa Dadapan menolaknya. Mbok Randa Dadapan tidak menyukai gadis yang kampungan dan kotor. 

Mendengar Mbok Randa Dadapan mengusirnya, Panji Asmara penasaran dan meminta Mbok Randa Dadapan mempertemukannya. Panji Asmara sangat terkesan dengan kesederhanaan dan keluguan Kleting Kuning. Di akhir kisah tersingkaplah bahwa Kleting Kuning tak lain adalah seorang putri raja yang bernama Galuh Candra Kirana. Putri raja itu sudah lama menghilang. Demikianlah sebagaimana yang dikisahkan secara turun temurun, dari generasi ke generasi, Panji Asmara dan Galuh Candra Kirana hidup bahagia sebagai raja dan permaisuri Kerajaan Jenggala.

Sumber: Ensiklopedi Gunungkidul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar